Apa yang Anda ingat tentang sosok Mario Teguh? Jika pertanyaan tersebut diajukan ke saya, saya akan menjawab, TIDAK BIASA. Saya tidak menggunakan frase LUAR BIASA ketika mengingat sosok Mario Teguh, karena frase LUAR BIASA sudah TERLALU BIASA bagi saya. Ya, begitu mudahnya seseorang mengatakan LUAR BIASA, pada kondisi yang sebenarnya tidak benar-benar luar biasa, sehingga kekuatan makna frase LUAR BIASA bagi saya sudah memudar. Ini alasan saya mengingat sosok Mario Teguh sebagai sosok yang TIDAK BIASA.
Mengapa TIDAK BIASA? Karena Mario Teguh memiliki keunikan tersendiri (penilaian saya lebih banyak terhadap untaian-untaian kalimat yang beliau sampaikan baik secara verbal maupun literal, tentang pribadi beliau secara dalam saya tidak terlalu tahu). Anda yang pernah menonton acara Golden Ways di Metro TV tentu sepakat dengan saya, bahwa pilihan kata yang digunakan oleh bapak Mario Teguh TIDAK BIASA. Kadang sedikit membingungkan, namun ternyata disanalah kekuatannya. Pilihan-pilihan kata beliau menunjukkan orisinalitas daya ungkap pemikiran beliau, dan ini -ternyata- disukai oleh banyak orang. Dengan gaya khas beliau, beliau mampu menjawab banyak pertanyaan-pertanyaan peserta -terutama dalam tema pengembangan diri- dengan jawaban yang unik namun begitu kuat. Salah satu rumus yang beliau sampaikan (yang sangat saya ingat) adalah rumus “jawaban sederhana” (istilah ini saya sendiri yang memunculkan). Misal, ketika ada orang yang bertanya, “Bagaimana cara mengatasi rasa malas?”, jawabannya adalah, “jangan malas”. “Bagaimana agar tidak menjadi pemarah”, jawabannya, “jangan marah”. Sederhana, namun begitu kuat. Jawaban model ini sangat tepat disampaikan kepada orang-orang yang senang berpikir rumit dalam hal-hal yang sebenarnya mudah dan simpel.
Baca entri selengkapnya »