Peradaban Agung

Posted: 17 September 2010 in Singkat Saja
Tag:,

Yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sekedar negara atau pemerintahan, namun lebih dari itu, beliau membangun peradaban. Peradaban yang agung dan mulia, peradaban yang mencahayai dunia secara keseluruhan. Tidak rindukah Anda dengan peradaban agung itu?

Muhammad Abduh

Banjarmasin, 17 September 2010

Insiden Ciketing

Posted: 17 September 2010 in Sosial Politik
Tag:, , ,

Aksi penusukan salah seorang jemaat HKBP di Ciketing, Bekasi, pada Ahad pagi (12/10/2010) menarik perhatian banyak pihak, apalagi setelah menjadi headline di berbagai media (cetak, elektronik). Insiden terjadi setelah iring-iringan jemaat HKBP berjumlah sekitar 200 orang -secara provokatif- menuju sebidang tanah kosong untuk menjalankan ibadah, dan berpapasan dengan sekelompok orang. Akhirnya terjadilah saling serang, saling pukul, dan satu orang jemaat HKBP bernama Hasian Sihombing mendapat luka tusuk parah. Insiden ini menjadi bahan perbincangan hangat karena masuknya isu SARA, pengekangan kebebasan beribadah kaum minoritas, bahaya terhadap kerukunan beragama, disintegrasi bangsa, dan isu-isu panas lainnya.

Ada beberapa sisi yang harus menjadi perhatian kita ketika melihat peristiwa ini. Tulisan ini akan sedikit menguraikannya.

Baca entri selengkapnya »

Pada tulisan kali ini saya akan mencoba menyampaikan etika-etika dasar dalam mencari ilmu yang saya kutip dari buku “Tips Belajar Para Ulama”, terjemahan dari dua buah buku “Adabu Tholib al-’Ilm” karya Dr. Anas Ahmad Karzun dan “Kaifa Tathlub al-’Ilm” karya Dr. ‘Aidh al-Qorni, MA. Ada 13 etika dasar mencari ilmu yang disampaikan oleh Dr. Anas Ahmad Karzun dalam buku tersebut, yang dalam tulisan ini akan saya sampaikan ringkasannya (dengan sedikit perubahan redaksi, tapi sama sekali tak mengubah isi) sebagai berikut:

1. Ikhlas

Hal pertama yang harus digunakan sebagai senjata dan tolak ukur bagi penuntut ilmu adalah ikhlas karena Allah ta’ala, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Sebab, Allah tidak akan menerima amal kecuali didasari ikhlas karena-Nya. Allah ta’ala berfirman yang artinya:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (TQS. Al-Bayyinah [98] : 5)

Baca entri selengkapnya »

Apa yang Anda ingat tentang sosok Mario Teguh? Jika pertanyaan tersebut diajukan ke saya, saya akan menjawab, TIDAK BIASA. Saya tidak menggunakan frase LUAR BIASA ketika mengingat sosok Mario Teguh, karena frase LUAR BIASA sudah TERLALU BIASA bagi saya. Ya, begitu mudahnya seseorang mengatakan LUAR BIASA, pada kondisi yang sebenarnya tidak benar-benar luar biasa, sehingga kekuatan makna frase LUAR BIASA bagi saya sudah memudar. Ini alasan saya mengingat sosok Mario Teguh sebagai sosok yang TIDAK BIASA.

Mengapa TIDAK BIASA? Karena Mario Teguh memiliki keunikan tersendiri (penilaian saya lebih banyak terhadap untaian-untaian kalimat yang beliau sampaikan baik secara verbal maupun literal, tentang pribadi beliau secara dalam saya tidak terlalu tahu). Anda yang pernah menonton acara Golden Ways di Metro TV tentu sepakat dengan saya, bahwa pilihan kata yang digunakan oleh bapak Mario Teguh TIDAK BIASA. Kadang sedikit membingungkan, namun ternyata disanalah kekuatannya. Pilihan-pilihan kata beliau menunjukkan orisinalitas daya ungkap pemikiran beliau, dan ini -ternyata- disukai oleh banyak orang. Dengan gaya khas beliau, beliau mampu menjawab banyak pertanyaan-pertanyaan peserta -terutama dalam tema pengembangan diri- dengan jawaban yang unik namun begitu kuat. Salah satu rumus yang beliau sampaikan (yang sangat saya ingat) adalah rumus “jawaban sederhana” (istilah ini saya sendiri yang memunculkan). Misal, ketika ada orang yang bertanya, “Bagaimana cara mengatasi rasa malas?”, jawabannya adalah, “jangan malas”. “Bagaimana agar tidak menjadi pemarah”, jawabannya, “jangan marah”. Sederhana, namun begitu kuat. Jawaban model ini sangat tepat disampaikan kepada orang-orang yang senang berpikir rumit dalam hal-hal yang sebenarnya mudah dan simpel.

Baca entri selengkapnya »

Totalitas Dalam Keberislaman

Posted: 15 September 2010 in Tafsir
Tag:, ,

Masyarakat Indonesia, walaupun sebagian besar beragama Islam, namun hanya sebagian kecil dari mereka yang berislam secara total. Sebagian besarnya mencampur adukkan Islam dengan berbagai adat istiadat yang sangat tidak Islami. Dengan justifikasi bahwa Islam yang berasal dari Arab harus diakulturalisasikan dengan budaya daerah setempat, akhirnya lahirlah Islam kejawen dengan berbagai macam ritual yang tidak Islami. Model Islam seperti ini juga muncul di daerah-daerah lain di Indonesia.

Model keberislaman lain yang juga banyak dianut oleh masyarakat Indonesia adalah hanya menjadikan Islam sebagai agama ritual belaka, tak menganggapnya sebagai panduan bagi seluruh kehidupan manusia. Inilah yang dikenal dengan paham sekulerisme, paham yang memisahkan agama dengan kehidupan.

Baca entri selengkapnya »

Saya, Muhammad Abduh, pengelola blog ini mengucapkan TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM. Semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Amiin.

Muhammad Abduh

9 September 2010 (Bertepatan 30 Ramadhan 1431 H)

Dalam sebuah tulisan di Catatan Akhir Pekan (CAP) Hidayatullah.com berjudul “’Radikalisme’ dan ‘Terorisme’, Adian Husaini mencoba mempertanyakan definisi “radikalisme” sebagai sebuah istilah. Menurut beliau, hal tersebut sangat penting, karena jika suatu istilah tidak memiliki definisi yang jelas, tentu akan menjadi rancu dan sangat memungkinkan multi tafsir dan disalah gunakan. Pertanyaan menarik, apalagi ketika istilah radikalisme kembali menyeruak, terutama setelah adanya Simposium Nasional bertajuk “Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme”, yang menghadirkan banyak pemateri dari berbagai kalangan, Juli lalu.

Beberapa poin rekomendasi dari simposium nasional tersebut menyebutkan kata “radikalisme” secara langsung. Misalnya poin: “Dukungan kepada Kementerian Pendidikan Nasional agar menjauhkan lembaga pendidikan dasar, menengah dan tinggi dari kemungkinan sebagai tempat persemaian radikalisme.” Kemudian poin: “Pemerintah, media-massa maupun tokoh masyarakat seyogyanya menghindari sikap dan tindakan yang bernada “memaklumi” atau “memaafkan” radikalisme apalagi terorisme, karena melalui hal seperti itulah terorisme bertahan dan berkembang. Khususnya MUI, perlu membuat dan mensosialisasikan fatwa-fatwa yang tidak mendukung radikalisme dan terorisme “ Dan poin: “Mendorong studi-studi radikalisme dan terorisme inter-disiplin yang akademis guna mendukung pembuatan kebijakan dan langkah operasional BNPT dan instansi terkait lainnya.”

Baca entri selengkapnya »

Jika Anda marah membaca judul tulisan diatas, berarti Anda masih waras. Kewarasan yang sekarang sudah tidak banyak lagi dimiliki oleh bangsa ini. Kalau Anda masih menganggap pernyataan saya ini aneh, Anda perlu menonton film karya Deddy Mizwar, Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Film satir yang menunjukkan sedikit ketidak warasan bangsa ini. Dan, kalau diuraikan, banyak lagi ketidak warasan bangsa ini yang tak terungkap di film tersebut. Salah satu ketidak warasan tersebut akan coba saya uraikan di tulisan ini.

Bila Anda sering melihat acara-acara televisi di bulan Ramadhan ini, Anda akan melihat fenomena aneh bangsa ini, fenomena taat musiman. Walaupun kata “taat” mungkin kurang tepat, namun paling tidak sedikit menggambarkan kenyataan yang terjadi. Lihat saja, cukup banyak iklan khusus Ramadhan yang menampilkan wanita berkerudung, begitu juga sinetron dan acara-acara khas Ramadhan lain. Ini menjadi fenomena tersendiri, karena wujud “wanita berkerudung” tersebut cukup asing hadir di televisi kita di luar bulan Ramadhan. Dan, berdasarkan pengamatan pada Ramadhan-Ramadhan yang lalu, fenomena “wanita berkerudung” ini akan kembali menghilang dari televisi kita pasca Ramadhan.

Baca entri selengkapnya »

Rencana pembakaran Al-Qur’an di Amerika Serikat semakin dekat. Aksi yang dinamakan “Hari Pembakaran Al-Qur’an Internasional” ini meski banyak dikecam, namun kelompok pencetus aksi ini seperti tak bergeming dengan berbagai kecaman tersebut. Hal ini, saya lihat disebabkan oleh beberapa faktor:

1.  Lemahnya posisi Islam dan umat Islam (termasuk negara-negara berpenduduk mayoritas muslim) di dunia internasional. Frase “dunia internasional” yang kita pahami sebagai kapitalisme global yang dipimpin oleh AS, saat ini begitu kuat mencengkeram negeri-negeri muslim sehingga tak ada aksi signifikan yang bisa dilakukan oleh umat Islam ketika agama mereka dihina dan dinista. Bahkan, para penguasa negeri-negeri muslim seperti “pemuda kurus dan tak berdaya” yang tak mampu memberikan perlawanan sedikit pun terhadap penghinaan agama Islam, semisal aksi pembakaran al-Qur’an tanggal 11 September ini.

Baca entri selengkapnya »

Madrasah Ramadhan

Posted: 3 September 2010 in Sosial Politik
Tag:, ,

Ramadhan sebentar lagi akan berakhir. Bahkan bagi pemudik, mungkin Ramadhan sudah berakhir sejak sekarang. Karena bisa jadi mereka sudah tak memikirkan lagi untuk mengoptimalkan Ramadhan, yang mereka pikirkan adalah bagaimana bisa pulang kampung dan menunjukkan kejayaan mereka di tanah orang. Mungkin mereka juga sudah tak puasa lagi, dengan alasan safar. Ramadhan bisa jadi juga telah berakhir bagi orang-orang yang lebih menyibukkan diri dengan persiapan lebaran (lebaran, bukan ‘idul fithri). 10 hari terakhir Ramadhan bagi mereka bukan untuk semakin meningkatkan ibadah, namun untuk berlomba-lomba mempersiapkan makanan dan pakaian untuk lebaran, bahkan untuk menata kembali rumah-rumah mereka agar semakin wah. Bagi mereka, tampil mewah pada saat lebaran lebih penting dari makna Ramadhan itu sendiri.

Pernyataan diatas bukan bermaksud suuzhzhon, sekali lagi bukan. Ini hanya sekedar ‘cubitan’ bagi orang-orang yang telah kehilangan Ramadhan, sebelum Ramadhan benar-benar meninggalkan mereka. Apa yang saya sampaikan diatas merupakan fakta, bahkan fenomena yang marak di negeri ini. Padahal hal ini jelas tak sesuai dengan esensi Ramadhan itu sendiri.

Baca entri selengkapnya »