Coba bandingkan perlakuan penegak hukum,
pada Gayus Tambunan dan ust. Abu Bakar Ba’asyir.
Gayus Tambunan yang telah nyata-nyata terbukti,
mengkorupsi uang negara ratusan miliar,
menjadi bagian jaringan korupsi di perpajakan,
yang katanya, “Orang bijak, taat pajak”,
walau sudah ditahan, masih bisa plesiran kemana-mana,
terakhir nonton Tenis Internasional di Bali.
Ust. Abu Bakar Ba’asyir,
seorang da’i dan ulama yang sudah berumur,
yang aktivitas hariannya adalah dakwah,
tiba-tiba ditangkap,
bak seorang penjahat kelas kakap,
buronan no. 1,
tanpa bukti, tanpa kejelasan.
Ini merupakan pengulangan atas beberapa kali penangkapan,
yang beliau terima sebelumnya.
Bandingkanlah wahai orang yang bisa berpikir!
Istilah terorisme, menjadi teror tersendiri di negeri ini.
Kata teroris digambarkan sangat menakutkan,
mengancam keutuhan bangsa,
menebarkan bom dan ketakutan.
Padahal, lihatlah, yang mereka sebut pelaku teroris,
sampai sekarang tak pernah terbukti.
Hanya dengan ciri fisik, jenggotan dan celana cingkrang,
ditambah tanda hitam di dahi,
sudah menjadi alasan kuat bagi Salep 88,
untuk menangkap, meringkus, bahkan menghabisi mereka,
tanpa hak membela diri, tanpa transparansi, tanpa bukti.
PAYAHNYA, MEDIA MENGAMINKAN SAJA !!!
Seakan media disetir oleh komandan Salep 88,
atau big boss dibelakang mereka.
Anehnya, pemimpin teroris sejati,
yang menghabisi orang-orang Irak, Afghanistan, Pakistan,
yang mendukung Israel menjajah Palestina,
yang membuat kekacauan di Timur Tengah dan Amerika Latin,
yang menuduh Indonesia sarang teroris,
yang dengan korporasi milik mereka, telah memiskinkan rakyat Indonesia,
di Papua, di Kalimantan, di seluruh Indonesia.
Teroris sejati itu bernama USA,
dan pemimpinnya bernama Barack Obama.
Lihatlah, ketika Obama datang ke Indonesia,
karpet merah dihamparkan untuknya,
masjid Istiqlal, simbol Islam dan kemerdekaan di Indonesia, dibukakan untuknya,
kampus UI, simbol intelektualitas Indonesia, dijadikan mimbar olehnya,
bahkan SiBeyE, sang kacung, berulang-ulang menyebutnya Yang Mulia,
seakan Obama adalah raja diraja yang harus disembah,
dicuci dan diciumi kakinya.
Para pemuda tulus, yang menolak kedatangannya,
dikatakan bodoh dan tak tahu diri.
LIHATLAH FAKTA, SIAPA YANG SEBENARNYA TAK TAHU DIRI !!!
Lihatlah negeri ini,
homoseksualitas dan lesbianisme,
dijajakan dan dikampanyekan,
bahkan oleh seorang profesor, yang mengaku muslimah,
katanya, “Islam mengakui homoseks”,
MENJIJIKKAN !!!
Perzinaan dilegalkan,
jika sedang pacaran,
tak apa-apa main begituan,
asal jangan hamil,
makanya pakai kondom!
Lokalisasi diadakan,
pelacur dianggap pahlawan,
menambah devisa negara katanya.
Yang marah terhadap perzinaan,
dan marah terhadap penguasa yang membiarkan,
kemudian bertindak sendiri menghancurkan kemaksiatan,
karena pembiaran pemerintah,
dianggap pelaku anarkis dan ditangkapi,
dianggap mengganggu keamanan dan stabilitas negara,
sedang para pelacur tertawa saja.
Anehnya negeri ini, pernikahan dikriminalkan,
katanya belum cukup umur,
belum layak nikah karena belum punya kerja,
padahal yang mau menikah ini wanita,
yang memang tak wajib bekerja.
Belum cukup umur kata mereka,
padahal Islam membolehkan,
asal mampu menjalani pernikahan.
Anehnya negeri ini, pelaku poligami dihujat,
dianggap pendosa besar dan pelaku maksiat,
dianggap tak tahu diri dan tak bisa menghormati istri,
aduhai bodohnya negeri ini!
Yang nyata-nyata berzina dipuja-puja,
karena dia artis yang terkenal dan masih muda,
dianggap superstar yang boleh melakukan apa saja,
tetapi seorang ustadz yang berpoligami,
dengan alasan yang syar’i,
malah dihujat dan diumpat.
Aduhai negeriku!
Negeri ini,
walau telah diingatkan untuk bertobat,
kembali pada Allah, kembali pada kebenaran,
dengan menerapkan hukum-hukum Allah,
dalam seluruh aspek kehidupan,
namun negeri ini tak menghiraukan.
Berlagak lebih paham,
menganggap diri sudah suci,
menganggap diri sudah Islami,
hanya karena berada di shaff pertama pada saat shalat idul Adha.
Diingatkan untuk bertobat,
yang mengingatkan malah ditangkap,
teroris, ekstrimis, radikalis katanya.
Nah lho, kalau orang yang mengingatkan untuk kembali ke Islam dituduh teroris,
berarti Islam ajaran terorisme dong…
Kalau Islam sama dengan terorisme,
mengapa bapak-bapak di istana,
masih ber-KTP Islam?
Mengapa tak ganti saja,
tulis saja, agama saya adalah Fir’aunisme.
Ya, yang menolak menerapkan Islam,
tak layak disebut muslim,
mereka lebih layak disebut pengikut Fir’aun.
Berpikirlah wahai negeri,
berpikirlah wahai anak negeri,
berpikirlah wahai penguasa negeri,
tak cukupkah letusan Merapi sebagai peringatan,
tak cukupkah puluhan bencana,
apakah negeri ini ingin mendapat bencana yang lebih besar lagi,
agar mau bertobat,
na’udzubillahi min dzalik.
Tobat… tobat…
Muhammad Abduh,
Banjarmasin, 20 November 2010




sangat menarik.. makasih & terus berkarya…
Terima kasih atas kunjungannya mas!